Siwah Aceh Pamor Keleng Asli

Rp4,300,000.00

Dhapur Keris  : Siwah
Pamor  : Pamor Keleng
Tangguh  : Kasultanan Aceh Abad 10
Panjang Bilah : Tanya CS
Pesi : Masih utuh panjang original tidak sambungan
Handle / Gagang : Kayu Original

Tuah : Berfungsi sebagai Lambang kehormatan yang tinggi, Serta Perlindungan.

*Note:

Siwah termasuk salah satu seni tradisional yang berfungi sebagai berikut:
1. Sebagai perhiasan, digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai perhiasan yang diselipkan di pinggang.
2. Sebagai seni ukir.
3. Senjata ini juga dipakai sebagai senjata untuk perang melawan penjajah.
4. Siwah yang telah diberikan hiasan emas dan permata pada sarung dan gagangnya lebih berfungsi sebagai perhiasan dari pada sebagai senjata.

Deskripsi

Siwah Pusaka Dalam Kasultanan Aceh

Siwah Aceh dewasa ini, senjata tradisional Siwah sangat langka ditemui. Hal itu terjadi karena sudah banyak peninggalan zaman kasultanan Aceh yang hilang. Senjata ini, dahulu menjadi salah satu senjata andalan masyarakat Aceh untuk menyerang penjajah.

Siwah Aceh yang ada di www.kolektorkeris.com ini tidak hanya langka dan melegenda, tetapi juga mempunyai harga yang sangat tinggi. Karena selain dijadikan sebagai senjata juga dijadikan sebagai perhiasan oleh para bangsawan kerajaan. Tidak sedikit senjata tradisional ini yang terbuat dari emas asli dan ditambahkan berbagai permata pada gagang dan sarungnya. Hal inilah yang membuatnya mempunyai harga jual yang sangat tinggi.

Asal Usul

siwah acehAdalah provinsi paling ujung Barat Indonesia, terletak dibagian paling Utara Pulau Sumatera. Propinsi yang telah mengalami banyak perubahan nama, mulai dari Daerah Istimewa Aceh, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dan saat ini telah ditetapkan dengan sebutan Pemerintah Aceh, memiliki sejuta misteri dan sejarah yang panjang ini, dikenal juga dengan sebutan tanah siwah.

Tanah siwah, diambil dari kata rencong yang merupakan sejenis senjata yang menjadi lambang keperkasaan Aceh dalam menghadapi berbagai serangan musuh. siwah juga menjadi salah satu perlambang adat yang dipakai disaat hari besar adat dan budaya seperti perkawinan, penyambutan tamu dan upacara adat lainnya.

Pada awalnya, rencong dan siwah adalah senjata kebesaran raja-raja Aceh, sebagaimana yang disampaikan oleh pewaris tahta kerajaan Aceh Tuanku Sulaiman kepada awak Suara Umum Aceh beberapa waktu yang lalu.

“Sultan memiliki dua senjata, satu rencong dan satunya lagi siwah, tetapi sultan tidak pernah memakai rencong seperti Hulubalang, yang dipakai oleh Sultan adalah Siwah .Banyak masyarakat Aceh sendiri yang tak tau tentang Pusaka Sultan Aceh ini”kisahnya.Siwah yang jarang kita dengar selama ini dan sangat sedikit referensi tentang benda bersejarah itu ternyata terbuat dari bahan khusus dan dibuat dengan perlakuan khusus pula.

Keluhuran Pusaka Siwah Dimata Masyarakat Aceh

siwah acehSiwah ini kabarnya tidak bisa dicabut dari sarungnya kecuali yang mencabut adalah para ahli waris yang terdiri dari garis keturunan Raja/ Sultan Aceh. Konon khabarnya, Siwah Garuda ini juga bisa mencari mangsa dengan sendirinya sesuai perintah dari tuannya dan benda ini masih tersimpan dengan baik.

Peralatan kebesaran Raja Aceh yang masih utuh sampai sekarang, seperti Siwah ini merupakan pakaian kebesaran Raja Aceh yang disematkan oleh Raja-Raja Aceh terdahulu. Pusaka ini pernah dipegang pada masa Pimpinan Sultan Johansyah. Selanjutnya diberikan kepada Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam dan dipakai secara turun temurun oleh Raja-Raja Aceh.

Pusaka ini pernah menjadi lambang kasultanan aceh pada zaman dahulu. Pertama dipakai oleh Sultan Johansyah/Sultan Aceh Pertama (1100 M) yang waktu itu beliau memerintah di kerajaan Lamuri. Kerajaan Lamuri merupakan cikal bakal kerajaan Aceh Darussalam. Banyak ahli sejarah yang mengupas tentang Lamuri. Diantaranya ada yang menyatakan bahwa Lamuri berasal dari kata-kata Rami (Ramni) dalam sebutan orang Arab tempo dulu (400 M).

“Setiap Sultan yang naik tahta, akan memegang siwah ini, sampai ketangan Ali Mugayatsyah”. Setelah kerajaan terdesak perang dengan Belanda dan waktu itu Belanda telah berhasil menguasai Kotaraja dan masuk ke Istana Dalam. Maka Siwah Garuda dan beberapa benda pusaka lainnya dilarikan untuk diselamatkan oleh keluarga kerajaan waktu itu” kata tuanku Sulaiman melanjutkan.

Seluruh pusaka Raja-Raja Aceh yang saat ini masih tersimpan dengan baik, akan dikeluarkan pada saat yang tepat nantinya. “pada saatnya tiba peralatan kebesaran Raja Aceh tersebut akan dikeluarkan untuk pembuktian sejarah masa lalu yang kini banyak tidak mengetahuinya”