Keris Sepuh Brojol Pamor Slewah/Tangkis

Rp8,523,000.00

Nama Pusaka : Keris Brojol.
Dapur / Bentuk : Brojol.
Pamor / Lambang / Filosofi : Slewah atau Tangkis.
Tangguh / Era Pembuatan / Estimasi : Tuban.
Model Bilah Pusaka : Lurus
Panjang Bilah-Gonjo Keris : – CM
Panjang Seluruh Keris : – CM
Asal Usul Pusaka : Dari Sang Mpu Wesi Aji Sakti.
Warangka : Gayaman Jogja Iras Kayu Jati.
Garansi : Pusaka Dijamin Original

Tuah / Khasiat : Kerejekian dan pergaulan, Mendapatkan Partner dalam Usaha dan Bisnis, Melancarkan Segala Urusan Dalam Karir dan Bisnis.

Deskripsi

Keistimewaan Keris Sepuh Brojol Pamor Slewah/Tangkis

Tentang Pamor Keris Sepuh Brojol

Keris Sepuh Brojol Tuban pamor slewahKeris Sepuh Brojol Pamor Slewah atau Tangkis, Pamor Slewah sebenarnya sebutan bagi gabungan dari dua pamor atau lebih yang berada pada sisi Bilah yang sama pada sebuah keris. Biasanya, jarak antar pamor dipisah sekitar 1 cm atau lebih. Namun jika dua pamor atau lebih tersebut gandeng (tidak dipisah oleh jarak, atau jaraknya sangat kecil), maka namanya bukan Pamor Slewah, namun dinamai Pamor Dwi Warna.

Jadi, Pamor Slewah adalah sebutan bagi pamor yang mempunyai dua motif yang berbeda, tapi menempati dua posisi pada bilah keris yang sama.

Dalam beberapa kasus, Pamor Slewah agak mirip dengan Pamor Tangkis, bedanya, Pamor Tangkis satu sisi diantaranya sama sekali tidak berpamor, atau kelengan, sedang pada Pamor Slewah dua sisinya berpamor, tapi pola gambaran pamornya berbeda. Pamor Slewah diyakini memiliki tuah memudahkan Pemiliknya untuk mencari jalan rejeki dan mudah bergaul, pada siapa pun, dari golongan manapun.

Secara umum, Pamor Slewah biasanya berisi Pamor Wiji Timun, sisi lainnya Pamor Kulit Semangka. Ada pula, Pamor Udan Mas dan Pamor Beras (Wos) Wutah, Pamor Tebu Kineret dan Pamor Udan Mas dan lain sebagainya. Intinya, jika ada Pamor berbeda diantara bilah Keris, maka itu adalah Keris dengan Pamor Slewah.

Tentang Dhapur Brojol – Pamor Keris Sepuh Bertuah Kerejekian Dan Pergaulan

Selain Memiliki menjadi Favorit karena menyandang predikat pamor keris terbaik, dalam masyarakat yang memandang keris dari sisi isoteri, seringkali dhapur keris Brojol ini dikaitkan dengan tuahnya “memperlancar kelahiran jabang bayi”. Sehingga mungkin banyak orang yang menganggap keris ini hanya cocok untuk mereka yang berprofesi sebagai dukun bayi. Benar dan tidaknya mengenai tuah tersebut, hanya Tuhan yang mengetahui. Namun di sisi lain, dijumpai bahwa banyak masyarakat yang memperoleh pusaka warisan keluarga ber-dapur Brojol, meskipun mereka bukan dari keturunan dukun bayi.

Keris Sepuh Brojol Bertuah Kerejekian, Sebagai Simbol Kelahiran

Keris Dapur Brojol, sebagaimana dhapur keris lainnya merupakan suatu karya yang mempunyai muatan spiritual berupa ajaran-ajaran hidup. Secara terminologi, brojol memang identik dan terkait dengan masalah kelahiran. Brojol merupakan istilah Jawa untuk ungkapan peristiwa kelahiran jabang bayi ke dunia. Keris berdapur brojol, sebagai simbol kelahiran bayi sebenarnya bukan pada proses kelahiran itu sendiri yang akan disampaikan, akan tetapi ditujukan pada kesucian jabang bayi yang baru dilahirkan, yaitu fitrah manusia.

“Ajaran-ajaran Jawa disampaikan penuh dengan pengetahuan esoterik yang merangsang angan-angan dan perenungan.“
(Niels Mulder, 2001:129)

Penafsiran yang dilakukan sangat tergantung wawasan dan pengalaman masing-masing pribadi yang sangat subjektif. Dalam budaya suatu ajaran yang dianggap penting jika disampaikan tanpa simbolisasi tentu menjadi tidak menarik dan juga kurang menyenangkan, karena disampaikan secara biasa-biasa saja (polos) dan tegas. Sebaliknya semakin tersembunyi (simbolik) dan semakin rumit maka akan semakin menarik dan makin mengembangkan pemikiran.

Keris Sepuh Brojol, Sebagai Simbol Fitrah Manusia

Kolektor keris - Keris Sepuh Brojol Tuban-3Fitrah manusia merupakan potensi dasar yang ada pada manusia untuk percaya adanya Tuhan dan selalu condong kepada kebenaran. Fitrah ini diciptakan dan bersumber dari Tuhan. Oleh karenanya, fitrah manusia mengarah kepada tujuan yang satu, kebenaran, dan kesucian jiwa yang menjadikan manusia selalu kembali dekat kepada Penciptanya. Pada hakekatnya, dalam diri manusia ada fitrah untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Nurani manusia selalu merindukan kedamaian dan ketenangan. Jauh di dalam lubuk hati manusia, pada dasarnya selalu ada kerinduan untuk terus menerus mengikuti jalan agama yang benar. Inilah fitrah manusia yang sesungguhnya, fitrah yang diajarkan agama.

Fitrah manusia itu pada dasarnya memiliki kecondongan membutuhkan adanya Tuhan Sang Pencipta. Dengan kecenderungan fitrah inilah manusia; bagaimanapun ingkarnya dia; ketika ia dalam keadaan tak berdaya, maka tetap akan mengakui keberadaan dan kekuasaan Tuhan. Inilah hakikat fitrah manusia. Apabila mereka taat dan patuh pada perintah Tuhan, mereka akan selalu dekat dengan-Nya. Apabila ia dekat dengan Tuhannya, ia akan selalu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat. la akan merasa bahwa setiap perilakunya, gerak geriknya berada dalam pengawasan Tuhan. Jika fitrah manusia telah kembali dan terjaga, timbul sifat ihsan dalam dirinya. Serasa ia berada dalam perhatian Tuhan, sehingga menjadikannya tertib dan berhati-hati dalam setiap sikap dan perbuatan. Prinsip kebaikan ini diakui oleh seluruh umat manusia, sedangkan perilaku yang tidak baik akan senantiasa mengantarkan manusia menuju kehinaan dan kesengsaraan.

Banyak Manusia Yang Melupakan Fitrahnya

Ironisnya, banyak di antara kita yang melupakan fitrah insaniyah (kemanusiaan) kita. Sebagian besar kita justru dipengaruhi, bahkan dikuasai oleh nafsu. Kita sering menjadikan nafsu sebagai illahi (Tuhan) dalam kehidupan ini. Padahal dalam ajaran agama Tuhan secara tegas mengecam para budak “nafsu”. Tidak lain seperti halnya binatang yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Betapa nista dan hinanya sebutan padanan yang diberikan Tuhan kepada para pemuja nafsu. Mereka diibaratkan seperti binatang, bahkan jauh lebih hina dari binatang. Inilah saat ketika manusia tergelincir berbuat kejahatan yang menghinakan dirinya serta menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan agamanya. Manusia diciptakan sebagai mahluk paling sempurna, karena dikaruniai akal. Akal akan menuntun manusia untuk menentukan derajatnya, apakah di bawah binatang atau bahkan di atas malaikat.

Mas Ashraff Sigid Menjelaskan, Dalam pandangan Jawa ada dua macam nafsu yang sangat menghalangi nilai kemanusiaan, yaitu hawa nafsu (nafsu-nafsu) dan pamrih (egoisme). Tak perlu disebutkan disini bermacam nafsu, namun secara umum ada idiom yang di sebut Mo-Limo, yaitu Madat (nyandu obat terlarang), Madon (main perempuan, selingkuh, seks bebas), Minum (Mabuk), Maling (mencuri, menipu, korupsi), dan Main (judi).

Hawa Nafsu dan Pamrih Menjadi Penghalang Utama

 

Hawa Nafsu yang tidak baik, merupakan perasaan dan tindakan kasar yang melemahkan kontrol diri manusia sehingga dapat melemahkan kekuatan batin. Orang yang dikuasai nafsu menunjukkan bahwa akal budi belum menduduki pengendalian jiwanya. Manusia semacam itu tidak lagi mengembangkan segi-segi halusnya (perasaan) dan kebanyakan akan menimbulkan konflik dan pertentangan, baik dalam keluarga maupun dalam lingkungannya dengan masyarakat.

Halangan yang kedua yaitu Pamrih (egoisme). Bertindak oleh karena pamrih berarti hanya mementingkan kepentingannya sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain bahkan seringkali merugikan orang lain. Pamrih merupakan sikap yang memperlemah manusia dari dalam. Pamrih terutama terkait dengan tiga nafsu, yaitu menganggap dirinya paling berkuasa, menganggap dirinya yang paling benar, dan hanya memperhatikan kebutuhan diri sendiri.

Manusia Cenderung Berlebihan Atas Kehidupannya

Dua macam nafsu tersebut menjadi halangan manusia mencapai Fitrah yang telah diberikan oleh Tuhan. Banyak keinginan manusia diluar kebutuhannya. Manusia yang telah dikuasai oleh nafus selalu berusaha untuk memenuhi segala keingannnya tanpa batas, meskipun ditempuh dengan cara-cara yang merendahkan derajat/martabatnya (suap, korupsi, menipu orang lain, mencuri dan sebagainya). Hasil tersebut dapat memenuhi keinginan manusia untuk memperoleh uang dan harta yang melimpah, rumah mewah, mobil banyak, sandangan serba bergengsi, gaya hidup hedonisme/konsumtif, dan sebagainya.

Meskipun hal tersebut dapat diperoleh, akan tetapi dari lubuk hati yang paling dalam, ada perasaan tidak tenteram, merasa berdosa, itulah fitrah yang diberikan Tuhan pada manusia. Bagi manusia yang masih sadar akan eksistensi kemanusiaannya, tentu ia tidak mau merendahkan derajatnya. Dia akan selalu berusaha untuk mempertahankan fitrah kemanusiaannya. Bahkan, ia akan selalu berusaha meningkatkan derajat serta kualitas kemanusiaannya. Tetapi bagi mereka yang telah dibutakan mata hatinya oleh dekapan nafsu, la akan terlena dan terbuai, tidak mempedulikan lagi fitrah kemanusiaannya yang suci. la akan terlelap dalam bisikan nafsu, sampai akhirnya maut datang menjemputnya.

Pengendalian Hawa Nafsu dan Kembali Kepada Fitrah Manusia

Untuk mengendalikan nafsu-nafsu dapat dilakukan dengan cara laku tapa dengan sedikit mengurangi makan, tidur, menguasai diri dibidang seksual, dan lain sebagainya. Sebagaimana dalam Serat Wulangreh tembang Durma :

“Dipun sami ambanting sariranira, cegah dhahar lan guling, darapon suda, nepsu kang ngambra-ambra, rerema ing tyasireki, dadi sabarang karsanira lestari“

(Lakukanlah prihatin, janganlah terlalu banvak makan dan terlalu banyak tidur, agar nafsu yang menyala-nyala dapat berkurang dan hati menjadi tenteram. Akhirnya segala sesuatu yang hendak dicapai akan terlaksana)

Sesuai dengan hal tersebut, bagi orang Jawa laku tapa bukanlah meniadakan sama sekali dorongan biologis akan tetapi sekedar mengatur dan membatasinya. Hal tersebut tentu dapat dicapai dengan membiasakan diri atau latihan. Taat terhadap perintah Tuhan dan selalu menjalankan apa yang telah diajarkan dalam agama juga merupakan suatu laku tapa. Sehingga dengan laku tapa demikian, diharapkan akan mendekatkan diri kepada Tuhannya dan diharapkan manusia selalu pada fitrahnya.

Pijetan menunjukkan kelapangan hati, Gandik polos menunjukkan ketabahan.

Dapur Brojol mempunyai ricikan Pijetan yang merupakan simbol dari kelapangan hati. Gandik polos merupakan simbol ketabahan dalam menjalani hidup. Kelapangan hati terhadap sesuatu yang diperoleh, khususnya terhadap keadaan yang tidak menyenangkan hati. Fitrah manusia itu pada dasarnya memiliki kecondongan percaya pada kekuasaan dan takdir Tuhan. Takdir bagi orang Jawa disebut dengan istilah “pepesthen“. Pepesthen mempunyai arti segala sesuatu yang menyangkut hidup manusia tidak dapat dilepaskan dari takdir Tuhan. Ada ajaran Jawa yang mengatakan :

“Ora ana kasekten sing madhani pepesthen, awit pepesthen iku wis ora ana sing bias murungake“. (Tiada kesaktian yang mempunyai kepastian sebagimana yang dimiliki Tuhan, karenanya tidak ada yang dapat menggagalkan kepastian dari Tuhan).

Oleh karena itu, dalam paham ajaran Jawa selalu beranggapan bahwa merah-birunya kehidupan tergantung dari takdir Tuhan. Peristiwa kehidupan di dunia yang menyangkut keselamatan-bencana, sengsara-kesenangan, kekayaan-kemiskinan, dan sebagainya sudah merupakan pepesthen. Atas dasar itu, orang Jawa menyikapi pandangan hidup dengan sekedar menjalankan apa yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Keris Sepuh Brojol Merupakan Ajaran Hidup Menuju Fitrah Manusia

Keris Sepuh Brojol Tuban pamor slewahDhapur Brojol yang sederhana merupakan suatu simbol mengenai ajaran hidup bagaimana seseorang untuk menjaga fitrah yang telah diberikan oleh Tuhan. Meskipun bentuknya sederhana, dhapur keris ini sarat dengan ajaran hidup yang sangat dalam. Meskipun fidak mudah untuk mencapainya, namun paling tidak ajaran ini mengingatkan manusia. Seorang yang masih sadar akan eksistensi kemanusiaannya, tentu ia tidak mau merendahkan derajatnya. Bahkan akan selalu berusaha untuk mempertahankan fitrah kemanusiaannya. Bahkan, ia akan selalu berusaha meningkatkan derajat serta kualitas kemanusiaannya.

Nafsu-nafsu duniawi yang menghalangi pencapaian fitrah, dikendalikan dengan tapa laku dan memahami takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Karena hidup ini tidak lepas dari kepastian dari Tuhan maka segala yang telah tercapai harus disyukuri dan diambil hikmahnya. Serta harus diterima dengan ikhlas, hati yang lapang, tabah, dan pasrah. Tabah dan pasrah menunjukkan kestabilan jiwa seseorang dalam menjalani hidup. Namun demikian, orang harus wajib berikhtiar dan harus berusaha semampunya. Namun usaha tersebut perlu dijalani sewajarnya, tidak memaksakan diri di luar batas kemampuannya, melanggar ajaran agama, dan merugikan orang lain. Orang yang hidup memaksakan diri dan neko-neko (bertingkah), cenderung untuk berbuat dan berperilaku tidak baik. Yang justru menjauhkan dirinya dari pencapaian fitrahnya sebagai manusia.

Note :

  1. Untuk Pemaharan, Deskripsi dan Gambar yang lebih detail tentang Keris Sepuh Brojol Pamor Slewah/Tangkis, Silahkan Menghubungi R.M Ashraff Sigid dinomor : 0811 – 2888 – 540 (WA/SMS/TLP)
  2. Baca Tata Cara Pemaharan Disni!!
  3. Disclaimer, Jaminan Dan Garansi, Disini!!

*Selain Keris Bertuah Keris ini sangat Indah sebagai pusaka koleksi.

Tag :

  • keris brojol buat usaha
  • keris brojol sepuh
  • keris sepuh brojol